Tag Archives: putih abu-abu

Memilih Jurusan Perkuliahan, Agama atau Sains?

Masa sekolah adalah masa-masa yang indah, begitu banyak orang berkata begitu karena masih bisa bercengkerama dengan teman sebaya, canda tawa, sendau gurau tanpa memikirkan beban hidup keluarga. Tapi, hal itu mungkin tidka bisa dijadikan konklusi oleh sebagian orang yang harus menanggung beban ekonomi keluarga dengan ikut bekerja selepas sekolah. Namun, kembali lagi hal tersebut tidak mengurangi kesenangan masa sekolah. Masa masa paling indah, ya masa sekolah begitulah kata Chrisye. Ketika SMA kelas 3 atau tingkatan akhir masa-masa yang kritis. Apakah kita siap melepaskan masa paling indah itu? Akan ada banyak tantangan setelah kita lepas dari seragam putih abu-abu. Biar bagaimanapun kita tetap harus menjalaninya, tidak mungkin kita berlama-lama disekolah hanya karena tidak ingin melepas keindahan masa sekolah. Ingat kawan, kebahagiaan itu sederhana. SYUKUR. Atas apa saja yang kita terima, yang kita rasakan, yang kita pahami sekecil apapun itu jika kita bersyukur, kita akan bahagia. Sedangkan sebesar apapun nikmat, jika tidak ada rasa syukur didalamnya tentu tidak akan pernah kita bahagia. Jadi, kebahagiaan itu kita buat bukan datang dengan sendirinya.

Setelah selesai masa sekolah kita harus mempunyai perencanaan kedepan. Apakah melanjutkan jenjang pendidikan? Bekerja? Atau bahkan menikah. Hanya 3 pilihan itu harus kita tentukan dan juga dipertimbangkan dengan keluarga. Kebetulan saya adalah keluarga besar Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Kota Pekalongan yang mempunyai bapak dan Ibu asuh yang banyak. Saya sekarang kelas 3 SMA IPA, otomatis harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kualitas pendidikan di Indonesia setara SMA kurang dihargai karena tidak mempunyai keahlian/ketrampilan khusus paling mentok menjadi pelayan toko, cleaning servis, pekerja honorer, dll. di Indonesia masih punya persepsi bahwa “sekolah yang tinggi biar mudah cari kerjanya”. Nyatanya banyak sarjana yang pengangguran. Ada juga yang lulusan SD bahkan tidak tamat SD sukses dalam kariernya. Jika persepsi tersebut terus ditanamkan pada anak-anak akan sangat tertekan baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat. Nilai-nilai pendidikan yang selama ini ada di sekolahan tidak tertanam dengan baik. Tujuan dari awal saja sudah salah, bagaimana untuk selanjutnya. Manusia lahir apakah sudah pintar? sudah bisa baca tulis? masih bodoh, oleh karenanya kita harus belajar. Belajar bisa dimana saja, kalaupun kedua orang tua bisa mengajari rutin tiap pagi ya silahkan. Pastilah sibuk dengan pekerjaan lainnya, urusan lainnya, makanya dititipkan di lembaga pendidikan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Secara tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sudah tercapai, tinggal dipantau perkembangannya. Dan aku memilih lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

JURUSAN APA YANG AKAN KAMU PILIH?

AGAMA ATAU SAINS?

Kenapa harus ada dikonomi jalur pendidikan? “Ilmu tanpa Agama buta, Agama tanpa Ilmu Pincang” (Albert Einstein). Seperti memilih sesuatu yang tidak harus dipilih. Ya ambil semuanya. Ketika ilmu tidak diiringi dengan agama yang kuat, maka ilmu itu tidak akan mampu melihat dunia seutuhnya. Dunia hanya hayalan dan materialisme yang diciptakan oleh manusia. Dunia hanyalah sesuatu yang semuanya bisa dipikir dengan akal, permasalahan apapun bisa terselesaikan dengan materi dunia. Kebahagiaan sejati hanyalah kebahagiaan orang-orang yang berilmu. Kekayaan ilmu menjadikan dia buta, dan menyalahkan bahkan memanfaatkan orang-orang yang tidak berilmu untuk tunduk pada kekuasaan ilmunya. Keilmuannya menjadikan dia sombong, congkak dan angkuh, seakan-akan lupa makhluk siapa dia. Ilmunya menjadikan mata batinnya tidak berperasaan, hilangnya empati dan belas kasihan. Tidak hanya buta fisik, butan hati lebih parah. Sebaliknya ketika agama tidak diiringi dengan ilmu menjadikan orang kolot, kaku dan tradisional. Pincang dengan sendirinya, dia mampu berdiri karena sikap percaya diri yang berlebihan agama yang dipegangnya bisa mengantarkan suksesnya dunia tanpa belajar ilmu dunia. Seakan-akan dia tidak hidup di dunia. Bisa berdiri, tetapi terseok-seok karena tidak mampu berjuang di dunia. “PIKIRKANLAH AKHIRATMU TANPA MELUPAKAN DUNIAMU”, begitulah Al-Qur’an dengan indahnya menyebutkan seusatu yang harus kita lakukan. Jika kita kuliah dalam jurusan Agama, ya kita juga pelajari ilmu sains (pengetahuan umum, ilmu sosial, ilmu alam, dll). Ketika kita kuliah di jurusan sains (kedokteran, biologi, teknik, sosial,  politik, hukum) kita juga tetap mempelajari agama. Ada keserasian, hubungan dan saling terikat tidak saling bertolak belakan atau saling bermusuhan.

Kemudian saya memilih jurusan Kedokteran. Kedokteran UMY, sangat seusai dengan konsep tersebut. Tidak hanya ilmu sains, tetapi dipadukan dengan agama. Bagaimana hukum transfusi, hukum transplantasi, bayi tabung menurut Islam? Bagiamana orang yang sakit tetap menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama? dan berbagai materi didalamnya. Lantas bagaimana dengan jurusan sains lainnya yang tidak ada sama sekali muatan agama? tidak perlu khawatir, akan ada banyak jalan menuju Mekah. Banyak ustadz, guru ngaji, kyai di sekitar tempat tinggal Anda. datangilah kajian agama, undangnya guru agama ke rumah, kost, dll. “Engkau boleh mencari ilmu dunia, tapi tidak sekalipun meninggalkan ilmu agama”. “Dengan ilmu pengetahuan engkau menjadi mudah, dengan agama engkau menjadi terarah”.

 

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan bisa menginspirasi kita semua.

Terima kasih