Tag Archives: Chamim Faizin

Kenapa Memilih Menjadi Dokter?

Pertanyaan itulah yang keluar ketika tes wawancara beasiswa full kedokteran UMY pada tahun 2012. Saat itu saya didampingi oleh Pengasuh Pondok, Ust. Slamet Mahfudz, BA, Hari Jum’at setelah melalui rangkaian seleksi administrasi dan berkas, dilanjutkan tes TPA berlanjut ke tes wawancara. Pada hari itu, suasana tegang, grogi, senang, campur aduk. Tegang karena sudah dari pagi nama saya tidak disebut-sebut jangan-jangan terlewat, atau pengumumannya salah, atau dll. Perasaan kalut malah menyelimuti. Grogi karena sebelumnya belum mempersiapkan kalau ada tes wawancara juga, padahal katanya cuma tes TPA. Ternyata ketika lolos tes TPA besoknya harus mengikuti tes wawancara dan harus disertai wali peserta. Sore itu langsung saya hubungi pengasuh pondok agar ada yang bisa memenuhi persyaratan tes wawancara tersebut.

Hari semakin siang, satu persatu peserta peserta dipanggil untuk masuk ruangan tes wawancara. Ruangan tes begitu gelap, hanya ada lampu orange redup, mungkin agar kesannya tenang dan nyaman, yang terjadi malah semakin menjadi tegang. Memang satu persatu peserta sudah wawancara, tetapi tetap saja terasa lama menunggu sesuatu yang yang ditunggu adalah kita. Walaupun peserta semakin surut setelah proses tes administrasi dan tes TPA tinggal beberapa peserta yang lolos ke tahap wawancara. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB, hari Jum’at adalah hari yang singkat kata orang karena ada Jum’atan (shalat Jum’at). Menurut saya, hari Jum’at adalah hari spesial karena keberkahan hari Jum’at sungguh luar biasa, semoga kepercayaan itu merasuk pada diriku pada saat itu sedang tes wawancara. Suara speaker masjid telah dikumandangkan murottal ayat suci Al-Qur’an tanda sebentar lagi jama’ah berdatangan ke masjid untuk shalat Jum’at, sedangkan saya masih tegang dan deg degan menunggu panggilan tes wawancara. Hampir berfikiran jikalau sampai adzan Jum’at berarti dilanjutkan setelah shalat Jum’at. Jika itu yang terjadi, tambah tegangnya saya bahkan bisa-bisa saat shalat malah memikirkan wawancara. Ah, tidak. Semoga sebentar lagi nama saya dipanggil. Ada peserta yang keluar dengan raut muka senang, cerah seperti telah memenangkan pertempuran seorang gladiator dengan musuhnya. Ada yang sedikit cemberut karena mungkin tidak bisa menjawab dan disebelahnya Ayahnya menenangkan dengan menepuk-nepuk pundaknya.

 

Saya masih duduk di bangku panjang permanen dengan alas marmer disebelahku pengasuh pondok. Entah apa yang aku pikirkan, tes wawancara seperti hendak bermain layangan dengan teman sebaya. Hanya memakai kaos oblong warna orange bertuliskan KOKAM, kaos yang saya beli belum ada sebulan setelah mengikuti kemah KOKAM di Salatiga. Karena tidak tau kalau bakal ada wawancara, setelah tes TPA ternyata sorenya dinyatakan lolos dan besoknya langsung wawancara. Persediaan baju terbatas, yasudahlah. KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkata Muda Muhammadiyah) merupakan barisan berani mati yang dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1965. Tanpa rasa malu dan takut, dengan bangganya memakai kaos tersebut dan celana kain yang lusuh. Tidak seperti biasanya peserta tes wawancara dengan setelan kemeja panjang rapi, pakai dasi, bahkan pakai jas. Ini hanya kaosan bro dan sepatu lusuh dari SMA. Saya lihat perserta lainnya dengan setelah kemeja rapi, celana bagus, dan sepatu fantopel. Tiada sedikitpun rasa pesimis atau minder, saya berharap lebih pada apa yang saya kenakan. Semoga ini keberuntunganku, dengan memakai kaos ini mereka tahu kalau saya kader Muhammadiyah dan patut diterima di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena kader Muhammadiyah.Beberapa orang juga menanyakan kaos yang saya pakai, entah mereka tanya karena kasihan pada saya, atau saya pengen tahu dan saya jawab sesuai apa yang ada.

Akhirnya saya pun dipanggil untuk masuk. Semoga Allah bersama saya. Rabbisrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatam milisani yahqahu qohuli. Emang benar, di dalam gelap ternyata dan tidak seterang di luar ruangan. Ada 4 orang dan tiap orang peserta akan diwawancarai per orang. Jadi, saya akan diwawancarai 4 orang secara bergantian, setelah satu selesai pindah ke meja satunya lagi begitu seterusnya. Sampailah pada pertanyaan dari pihak fakultas tentang Kedokteran.

“Kenapa Memilih Menjadi Dokter?”

Jujur ketika pertanyaan itu keluar, aku terdiam sejenak. Kemudian tanpa disadari keluar kata-kata. “Karena ingin membantu orang lain”.

Pertanyaanpun kembali terlontar, “Membantu orang lain kan bisa lewat berbagai cara, tidak harus menjadi dokter?”

Kembali sejenak terdiam. “Dengan menjadi dokter, saya bisa membantu banyak orang lain, membantu orang yang kesusahan, membantu orang yang kesakitan, membutuhkan pertolongan.” kembali terdiam. Kemudian kembali saya berkata. “Ketika saya kecil, masih terekam kuat memori ketika Ayah saya jatuh sakit-sakitan. Demam, susah untuk berjalan, nafsu makan menurun dan hanya tiduran di lantai bawah beralaskan tikar. Dan disitu saya tidak bisa apa-apa. Kemudian sakitnya masih terus menyerang, Ayah saya minta dekat dengan Kakaknya yang pertama karena di sanalah kecil dan remaja selalu bersama kakaknya. Kedekatan emosional yang luar biasa kakak adek (Ayah saya) yang sejak dari kecil ditinggal orang tuanya karena meninggal dunia. Kakak adek yang berjuang bersama, berdagang buah di pasar. Kakak ayah saya yang mengajarkan berdagang, hingga ayah bisa buka usaha dagang sendiri bahkan lebih sukses dari kakaknya, tak lama setelah itu jatuh sakit. Dan saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya masih kecil, umur hanya 7 tahun. Dan tak lama setelah itu, Ayah dikembalikan pada sang pemilik Allah SWT. Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Semoga dengan saya menjadi dokter saya bisa meneruskan perjuangan Ayah saya, tidak ingin melihat orang lain sakit, sedangkan saya tidak bisa berbuat apa-apa”. Begitulah aku mengakhiri jawabanku.

Kawan, pertanyaan kenapa memilih menjadi dokter akan ada banyak jawaban karena pertanyaan tersebut tidak ada opsinya untuk kita memilih. Pertanyaan tersebut tidak hanya ada ketika seseorang hendak masuk fakultas kedokteran bahkan sampai menjadi dokterpun harus kita ingat betul-betul pertanyaan tersebut. Agar kita tidak salah dalam bertindak, tidak salah dalam berucap, tidak salah dalam bersikap. Dengan kita ingat hal itu terus kita akan selalu berada di jalur yang kita kehendaki. Apapun jawaban kalian, dokter adalah profesi mulia semoga tujuan kalian menjadi dokter juga semulia profesi yang kalian jalani.

Semoga dari sedikit cerita ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua. Aamiiin….

Advertisements