Memilih Jurusan Perkuliahan, Agama atau Sains?

Masa sekolah adalah masa-masa yang indah, begitu banyak orang berkata begitu karena masih bisa bercengkerama dengan teman sebaya, canda tawa, sendau gurau tanpa memikirkan beban hidup keluarga. Tapi, hal itu mungkin tidka bisa dijadikan konklusi oleh sebagian orang yang harus menanggung beban ekonomi keluarga dengan ikut bekerja selepas sekolah. Namun, kembali lagi hal tersebut tidak mengurangi kesenangan masa sekolah. Masa masa paling indah, ya masa sekolah begitulah kata Chrisye. Ketika SMA kelas 3 atau tingkatan akhir masa-masa yang kritis. Apakah kita siap melepaskan masa paling indah itu? Akan ada banyak tantangan setelah kita lepas dari seragam putih abu-abu. Biar bagaimanapun kita tetap harus menjalaninya, tidak mungkin kita berlama-lama disekolah hanya karena tidak ingin melepas keindahan masa sekolah. Ingat kawan, kebahagiaan itu sederhana. SYUKUR. Atas apa saja yang kita terima, yang kita rasakan, yang kita pahami sekecil apapun itu jika kita bersyukur, kita akan bahagia. Sedangkan sebesar apapun nikmat, jika tidak ada rasa syukur didalamnya tentu tidak akan pernah kita bahagia. Jadi, kebahagiaan itu kita buat bukan datang dengan sendirinya.

Setelah selesai masa sekolah kita harus mempunyai perencanaan kedepan. Apakah melanjutkan jenjang pendidikan? Bekerja? Atau bahkan menikah. Hanya 3 pilihan itu harus kita tentukan dan juga dipertimbangkan dengan keluarga. Kebetulan saya adalah keluarga besar Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Kota Pekalongan yang mempunyai bapak dan Ibu asuh yang banyak. Saya sekarang kelas 3 SMA IPA, otomatis harus melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kualitas pendidikan di Indonesia setara SMA kurang dihargai karena tidak mempunyai keahlian/ketrampilan khusus paling mentok menjadi pelayan toko, cleaning servis, pekerja honorer, dll. di Indonesia masih punya persepsi bahwa “sekolah yang tinggi biar mudah cari kerjanya”. Nyatanya banyak sarjana yang pengangguran. Ada juga yang lulusan SD bahkan tidak tamat SD sukses dalam kariernya. Jika persepsi tersebut terus ditanamkan pada anak-anak akan sangat tertekan baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat. Nilai-nilai pendidikan yang selama ini ada di sekolahan tidak tertanam dengan baik. Tujuan dari awal saja sudah salah, bagaimana untuk selanjutnya. Manusia lahir apakah sudah pintar? sudah bisa baca tulis? masih bodoh, oleh karenanya kita harus belajar. Belajar bisa dimana saja, kalaupun kedua orang tua bisa mengajari rutin tiap pagi ya silahkan. Pastilah sibuk dengan pekerjaan lainnya, urusan lainnya, makanya dititipkan di lembaga pendidikan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Secara tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak sudah tercapai, tinggal dipantau perkembangannya. Dan aku memilih lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

JURUSAN APA YANG AKAN KAMU PILIH?

AGAMA ATAU SAINS?

Kenapa harus ada dikonomi jalur pendidikan? “Ilmu tanpa Agama buta, Agama tanpa Ilmu Pincang” (Albert Einstein). Seperti memilih sesuatu yang tidak harus dipilih. Ya ambil semuanya. Ketika ilmu tidak diiringi dengan agama yang kuat, maka ilmu itu tidak akan mampu melihat dunia seutuhnya. Dunia hanya hayalan dan materialisme yang diciptakan oleh manusia. Dunia hanyalah sesuatu yang semuanya bisa dipikir dengan akal, permasalahan apapun bisa terselesaikan dengan materi dunia. Kebahagiaan sejati hanyalah kebahagiaan orang-orang yang berilmu. Kekayaan ilmu menjadikan dia buta, dan menyalahkan bahkan memanfaatkan orang-orang yang tidak berilmu untuk tunduk pada kekuasaan ilmunya. Keilmuannya menjadikan dia sombong, congkak dan angkuh, seakan-akan lupa makhluk siapa dia. Ilmunya menjadikan mata batinnya tidak berperasaan, hilangnya empati dan belas kasihan. Tidak hanya buta fisik, butan hati lebih parah. Sebaliknya ketika agama tidak diiringi dengan ilmu menjadikan orang kolot, kaku dan tradisional. Pincang dengan sendirinya, dia mampu berdiri karena sikap percaya diri yang berlebihan agama yang dipegangnya bisa mengantarkan suksesnya dunia tanpa belajar ilmu dunia. Seakan-akan dia tidak hidup di dunia. Bisa berdiri, tetapi terseok-seok karena tidak mampu berjuang di dunia. “PIKIRKANLAH AKHIRATMU TANPA MELUPAKAN DUNIAMU”, begitulah Al-Qur’an dengan indahnya menyebutkan seusatu yang harus kita lakukan. Jika kita kuliah dalam jurusan Agama, ya kita juga pelajari ilmu sains (pengetahuan umum, ilmu sosial, ilmu alam, dll). Ketika kita kuliah di jurusan sains (kedokteran, biologi, teknik, sosial,  politik, hukum) kita juga tetap mempelajari agama. Ada keserasian, hubungan dan saling terikat tidak saling bertolak belakan atau saling bermusuhan.

Kemudian saya memilih jurusan Kedokteran. Kedokteran UMY, sangat seusai dengan konsep tersebut. Tidak hanya ilmu sains, tetapi dipadukan dengan agama. Bagaimana hukum transfusi, hukum transplantasi, bayi tabung menurut Islam? Bagiamana orang yang sakit tetap menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama? dan berbagai materi didalamnya. Lantas bagaimana dengan jurusan sains lainnya yang tidak ada sama sekali muatan agama? tidak perlu khawatir, akan ada banyak jalan menuju Mekah. Banyak ustadz, guru ngaji, kyai di sekitar tempat tinggal Anda. datangilah kajian agama, undangnya guru agama ke rumah, kost, dll. “Engkau boleh mencari ilmu dunia, tapi tidak sekalipun meninggalkan ilmu agama”. “Dengan ilmu pengetahuan engkau menjadi mudah, dengan agama engkau menjadi terarah”.

 

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan bisa menginspirasi kita semua.

Terima kasih

Kenapa Memilih Menjadi Dokter?

Pertanyaan itulah yang keluar ketika tes wawancara beasiswa full kedokteran UMY pada tahun 2012. Saat itu saya didampingi oleh Pengasuh Pondok, Ust. Slamet Mahfudz, BA, Hari Jum’at setelah melalui rangkaian seleksi administrasi dan berkas, dilanjutkan tes TPA berlanjut ke tes wawancara. Pada hari itu, suasana tegang, grogi, senang, campur aduk. Tegang karena sudah dari pagi nama saya tidak disebut-sebut jangan-jangan terlewat, atau pengumumannya salah, atau dll. Perasaan kalut malah menyelimuti. Grogi karena sebelumnya belum mempersiapkan kalau ada tes wawancara juga, padahal katanya cuma tes TPA. Ternyata ketika lolos tes TPA besoknya harus mengikuti tes wawancara dan harus disertai wali peserta. Sore itu langsung saya hubungi pengasuh pondok agar ada yang bisa memenuhi persyaratan tes wawancara tersebut.

Hari semakin siang, satu persatu peserta peserta dipanggil untuk masuk ruangan tes wawancara. Ruangan tes begitu gelap, hanya ada lampu orange redup, mungkin agar kesannya tenang dan nyaman, yang terjadi malah semakin menjadi tegang. Memang satu persatu peserta sudah wawancara, tetapi tetap saja terasa lama menunggu sesuatu yang yang ditunggu adalah kita. Walaupun peserta semakin surut setelah proses tes administrasi dan tes TPA tinggal beberapa peserta yang lolos ke tahap wawancara. Jam telah menunjukkan pukul 10.00 WIB, hari Jum’at adalah hari yang singkat kata orang karena ada Jum’atan (shalat Jum’at). Menurut saya, hari Jum’at adalah hari spesial karena keberkahan hari Jum’at sungguh luar biasa, semoga kepercayaan itu merasuk pada diriku pada saat itu sedang tes wawancara. Suara speaker masjid telah dikumandangkan murottal ayat suci Al-Qur’an tanda sebentar lagi jama’ah berdatangan ke masjid untuk shalat Jum’at, sedangkan saya masih tegang dan deg degan menunggu panggilan tes wawancara. Hampir berfikiran jikalau sampai adzan Jum’at berarti dilanjutkan setelah shalat Jum’at. Jika itu yang terjadi, tambah tegangnya saya bahkan bisa-bisa saat shalat malah memikirkan wawancara. Ah, tidak. Semoga sebentar lagi nama saya dipanggil. Ada peserta yang keluar dengan raut muka senang, cerah seperti telah memenangkan pertempuran seorang gladiator dengan musuhnya. Ada yang sedikit cemberut karena mungkin tidak bisa menjawab dan disebelahnya Ayahnya menenangkan dengan menepuk-nepuk pundaknya.

 

Saya masih duduk di bangku panjang permanen dengan alas marmer disebelahku pengasuh pondok. Entah apa yang aku pikirkan, tes wawancara seperti hendak bermain layangan dengan teman sebaya. Hanya memakai kaos oblong warna orange bertuliskan KOKAM, kaos yang saya beli belum ada sebulan setelah mengikuti kemah KOKAM di Salatiga. Karena tidak tau kalau bakal ada wawancara, setelah tes TPA ternyata sorenya dinyatakan lolos dan besoknya langsung wawancara. Persediaan baju terbatas, yasudahlah. KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkata Muda Muhammadiyah) merupakan barisan berani mati yang dibentuk pada tanggal 1 Oktober 1965. Tanpa rasa malu dan takut, dengan bangganya memakai kaos tersebut dan celana kain yang lusuh. Tidak seperti biasanya peserta tes wawancara dengan setelan kemeja panjang rapi, pakai dasi, bahkan pakai jas. Ini hanya kaosan bro dan sepatu lusuh dari SMA. Saya lihat perserta lainnya dengan setelah kemeja rapi, celana bagus, dan sepatu fantopel. Tiada sedikitpun rasa pesimis atau minder, saya berharap lebih pada apa yang saya kenakan. Semoga ini keberuntunganku, dengan memakai kaos ini mereka tahu kalau saya kader Muhammadiyah dan patut diterima di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena kader Muhammadiyah.Beberapa orang juga menanyakan kaos yang saya pakai, entah mereka tanya karena kasihan pada saya, atau saya pengen tahu dan saya jawab sesuai apa yang ada.

Akhirnya saya pun dipanggil untuk masuk. Semoga Allah bersama saya. Rabbisrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatam milisani yahqahu qohuli. Emang benar, di dalam gelap ternyata dan tidak seterang di luar ruangan. Ada 4 orang dan tiap orang peserta akan diwawancarai per orang. Jadi, saya akan diwawancarai 4 orang secara bergantian, setelah satu selesai pindah ke meja satunya lagi begitu seterusnya. Sampailah pada pertanyaan dari pihak fakultas tentang Kedokteran.

“Kenapa Memilih Menjadi Dokter?”

Jujur ketika pertanyaan itu keluar, aku terdiam sejenak. Kemudian tanpa disadari keluar kata-kata. “Karena ingin membantu orang lain”.

Pertanyaanpun kembali terlontar, “Membantu orang lain kan bisa lewat berbagai cara, tidak harus menjadi dokter?”

Kembali sejenak terdiam. “Dengan menjadi dokter, saya bisa membantu banyak orang lain, membantu orang yang kesusahan, membantu orang yang kesakitan, membutuhkan pertolongan.” kembali terdiam. Kemudian kembali saya berkata. “Ketika saya kecil, masih terekam kuat memori ketika Ayah saya jatuh sakit-sakitan. Demam, susah untuk berjalan, nafsu makan menurun dan hanya tiduran di lantai bawah beralaskan tikar. Dan disitu saya tidak bisa apa-apa. Kemudian sakitnya masih terus menyerang, Ayah saya minta dekat dengan Kakaknya yang pertama karena di sanalah kecil dan remaja selalu bersama kakaknya. Kedekatan emosional yang luar biasa kakak adek (Ayah saya) yang sejak dari kecil ditinggal orang tuanya karena meninggal dunia. Kakak adek yang berjuang bersama, berdagang buah di pasar. Kakak ayah saya yang mengajarkan berdagang, hingga ayah bisa buka usaha dagang sendiri bahkan lebih sukses dari kakaknya, tak lama setelah itu jatuh sakit. Dan saat itu saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya masih kecil, umur hanya 7 tahun. Dan tak lama setelah itu, Ayah dikembalikan pada sang pemilik Allah SWT. Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Semoga dengan saya menjadi dokter saya bisa meneruskan perjuangan Ayah saya, tidak ingin melihat orang lain sakit, sedangkan saya tidak bisa berbuat apa-apa”. Begitulah aku mengakhiri jawabanku.

Kawan, pertanyaan kenapa memilih menjadi dokter akan ada banyak jawaban karena pertanyaan tersebut tidak ada opsinya untuk kita memilih. Pertanyaan tersebut tidak hanya ada ketika seseorang hendak masuk fakultas kedokteran bahkan sampai menjadi dokterpun harus kita ingat betul-betul pertanyaan tersebut. Agar kita tidak salah dalam bertindak, tidak salah dalam berucap, tidak salah dalam bersikap. Dengan kita ingat hal itu terus kita akan selalu berada di jalur yang kita kehendaki. Apapun jawaban kalian, dokter adalah profesi mulia semoga tujuan kalian menjadi dokter juga semulia profesi yang kalian jalani.

Semoga dari sedikit cerita ini bermanfaat dan dapat menginspirasi kita semua. Aamiiin….

Dispepsia

dispepsia
Definisi
Dispepsia merupakan rasa tidak nyaman yang berasal dari daerah abdomen/perut bagian atas. Rasa tidak nyaman tersebut dapat berupa salah satu atau beberapa gejala berikut yaitu: nyeri epigastrium, rasa terbakar diepigastrium, rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, rasa kembung padasaluran cerna atas, mual, muntah, dan sendawa.Untuk dispepsia fungsional,
keluhan tersebut di atas harus berlangsung setidaknya selama tiga bulan terakhir dengan awitan gejala enam bulan sebelum diagnosis ditegakkan.
Epidemiologi
Prevalensi pasien dispepsia di pelayanan kesehatan mencakup 30% dari pelayanan dokter umum dan 50% dari pelayanan dokter spesialis gastroenterologi. Mayoritas pasien Asia dengan dispepsia yang belum diinvestigasi dan tanpa tanda bahaya merupakan dispepsia fungsional. Berdasarkan hasil penelitian di negara-negara Asia (Cina, Hong Kong, Indonesia, Korea, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam) didapatkan 43-79,5% pasien dengan dispepsia adalah dispepsia fungsional. Dari hasil endoskopi yang dilakukan pada 550 pasien dispepsia dalam beberapa senter di Indonesia pada Januari 2003 sampai April 2004, didapatkan
44,7 % kasus kelainan minimal pada gastritis dan duodenitis; 6,5% kasus dengan ulkus gaster; dan normal pada 8,2% kasus. Di Indonesia, data prevalensi infeksi Hp (Helicobacter pylori) pada pasien ulkus peptikum (tanpa riwayat pemakaian obat-obatan anti-inflamasi non-steroid/OAINS) bervariasi dari 90-100% dan untuk pasien dispepsia fungsional sebanyak 20-40% dengan berbagai metode diagnostik (pemeriksaan serologi, kultur, dan histopatologi). Prevalensi infeksi Hp pada pasien dispepsia yang menjalani pemeriksaanendoskopik di berbagai rumah sakit pendidikan kedokteran di Indonesia (2003-2004) ditemukan sebesar 10.2%. Prevalensi yang cukup tinggi ditemui di Makasar tahun 2011 (55%), Solo tahun 2008 (51,8%), Yogyakarta (30.6%) dan Surabaya tahun 2013 (23,5%), serta prevalensi terendah di Jakarta (8%).
Patofisiologi
Patofisiologi ulkus peptikum yang disebabkan oleh Hp dan obat-obatan anti-inflamasi non-steroid (OAINS) telah banyak diketahui. Dispepsia fungsional disebabkan oleh beberapa faktor utama, antara lain gangguan motilitas gastroduodenal, infeksi Hp, asam lambung, hipersensitivitas viseral,dan faktor psikologis. Faktor-faktor lainnya yang dapat berperan adalah
genetik, gaya hidup, lingkungan, diet dan riwayat infeksi gastrointestinal sebelumnya.
1. Peranan gangguan motilitas gastroduodenal
Gangguan motilitas gastroduodenal terdiri dari penurunan kapasitas lambung dalam menerima makanan (impaired gastric accommodation), inkoordinasi antroduodenal, dan perlambatan pengosongan lambung. Gangguan motilitas gastroduodenal merupakan salah satu mekanisme
utama dalam patofisiologi dispepsia fungsional, berkaitan dengan perasaan begah setelah makan, yang dapat berupa distensi abdomen, kembung, danrasa penuh.
2. Peranan hipersensitivitas viseral
Hipersensitivitas viseral berperan penting dalam patofisiologi dispepsia fungsional, terutama peningkatan sensitivitas saraf sensorik perifer dan sentral terhadap rangsangan reseptor kimiawi dan reseptor mekanik intraluminal lambung bagian proksimal. Hal ini dapat menimbulkan atau memperberat gejala dispepsia.
3. Peranan faktor psikososial
Gangguan psikososial merupakan salah satu faktor pencetus yang berperan dalam dispepsia fungsional. Derajat beratnya gangguan psikososial sejalan dengan tingkat keparahan dispepsia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa depresi dan ansietas berperan pada terjadinya dispepsia fungsional.
4. Peranan asam lambung
Asam lambung dapat berperan dalam timbulnya keluhan dispepsia fungsional. Hal ini didasari pada efektivitas terapi anti-sekretorik asam dari beberapa penelitian pasien dispepsia fungsional. Data penelitian mengenai sekresi asam lambung masih kurang, dan laporan di Asia masih kontroversial.
5. Peranan infeksi Hp
Prevalensi infeksi Hp pasien dispepsia fungsional bervariasi dari 39% sampai 87%. Hubungan infeksi Hp dengan ganggguan motilitas tidak konsisten namun eradikasi Hp memperbaiki gejala-gejala dispepsia fungsional. Penanda biologis seperti ghrelin dan leptin , serta perubahan ekspresi muscle-specific microRNAs berhubungan dengan proses patofisiologi dispepsia fungsional, yang masih perlu diteliti lebih lanjut.
DIAGNOSIS
Dispepsia yang telah diinvestigasi terdiri dari dispepsia organik dan fungsional. Dispepsia organik terdiri dari ulkus gaster, ulkus duodenum, gastritis erosi, gastritis, duodenitis dan proses keganasan. Dispepsia fungsional mengacu kepada kriteria Roma III.Kriteria Roma III belum divalidasi di Indonesia. Konsensus Asia-Pasifik (2012) memutuskan untuk mengikuti
konsep dari kriteria diagnosis Roma III dengan penambahan gejala berupa kembung pada abdomen bagian atas yang umum ditemui sebagai gejala dispepsia fungsional. Dispepsia menurut kriteria Roma III adalah suatu penyakit dengan satu atau lebih gejala yang berhubungan dengan gangguan di gastroduodenal:
• Nyeri epigastrium
• Rasa terbakar di epigastrium
• Rasa penuh atau tidak nyaman setelah makan
• Rasa cepat kenyang
Gejala yang dirasakan harus berlangsung setidaknya selama tiga bulan terakhir dengan awitan gejala enam bulan sebelum diagnosis ditegakkan. Kriteria Roma III membagi dispepsia fungsional menjadi 2 subgrup, yakni epigastric pain syndrome dan postprandial distress syndrome. Akan tetapi, bukti terkini menunjukkan bahwa terdapat tumpang tindih diagnosis dalam dua pertiga pasien dispepsia.
bagan dispepsia
Gambar 1.Alur Diagnosis dispepsia belum diinvestigasi
Evaluasi tanda bahaya harus selalu menjadi bagian dari evaluasi pasien-pasien yang datang dengan keluhan dispepsia. Tanda bahaya pada dispepsia yaitu:
• Penurunan berat badan (unintended)
• Disfagia progresif
• Muntah rekuren atau persisten
• Perdarahan saluran cerna
• Anemia
• Demam
• Massa daerah abdomen bagian atas
• Riwayat keluarga kanker lambung
• Dispepsia awitan baru pada pasien di atas 45 tahun
Pasien-pasien dengan keluhan seperti di atas harus dilakukan investigasi terlebih dahulu dengan endoskopi.
bagan dispesia Hp
lanjutan bagan dispepsia Hp
Tata Laksana
1. Dispepsia yang belum di investigasi
Strategi optimal untuk tatalaksana ini memberikan terapi empirik selama 1-4 minggu sebelum hasil investigasi awal yaitu pemeriksaan adanya Hp. Obat yang digunakan berupa antasida, PPI (Pompa Proton Inhibitor seperti, omeprazole, rabeprazole, lansoprazole), H2-reseptor agonis, prokinetik, sitoprotektor seperti rebamipide.
2. Dispepsia yang telah diinvestigasi
Pasien-pasien dispepsia dengan tanda bahaya tidak diberikan terapi empirik, melainkan harus dilakukan investigasi terlebih dahulu dengan endoskopi dengan atau tanpa pemeriksaan histopatologi sebelum ditangani sebagai dispepsia fungsional. Setelah investigasi, tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa pada beberapa kasus dispepsia ditemukan GERD sebagai kelainannya.
a. Dispepsia organik
Apabila ditemukan lesi mukosa (mucosal damage) sesuai hasil endoskopi, terapi dilakukan berdasarkan kelainan yang ditemukan. Kelainan yang termasuk ke dalam kelompok dispepsia organik antara lain gastritis, gastritis hemoragik, duodenitis, ulkus gaster, ulkus duodenum, atau proses keganasan. Pada ulkus peptikum (ulkus gaster dan/ atau ulkus duodenum), obat yang diberikan antara lain kombinasi PPI, misal rabeprazole 2×20 mg/ lanzoprazole 2×30 mg dengan mukoprotektor, misalnya rebamipide 3×100 mg.
b. Dispepsia fungsional
Apabila setelah investigasi dilakukan tidak ditemukan kerusakan mukosa, terapi dapat diberikan sesuai dengan gangguan fungsional yang ada. Penggunaan prokinetik seperti metoklopramid, domperidon, cisaprid, itoprid dan lain sebagainya dapat memberikan perbaikan gejala pada beberapa pasien dengan dispepsia fungsional. Hal ini terkait dengan perlambatan pengosongan lambung sebagai salah satu patofisiologi dispepsia fungsional.
Kewaspadaan harus diterapkan pada penggunaan cisaprid oleh karena potensi komplikasi kardiovaskular. Data penggunaan obat-obatan antidepresan atau ansiolitik pada pasien
dengan dispepsia fungsional masih terbatas. Dalam sebuah studi di Jepang baru-baru ini menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan pada pasien dispepsia fungsional yang mendapatkan agonis 5-HT1 dibandingkan plasebo. Di sisi lain venlafaxin, penghambat ambilan serotonin dan norepinerfrin tidak menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding plasebo. Gangguan psikologis, gangguan tidur, dan sensitivitas reseptor serotonin sentral mungkin merupakan faktor penting dalam respon terhadap terapi antidepresan pada pasien dispepsia fungsional.
3. Tata laksana dispepsia dengan infeksi Hp
Eradikasi Hp mampu memberikan kesembuhan jangka panjang terhadap gejala dispepsia. Dalam salah satu studi cross-sectional pada 21 pasien di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2010) didapatkan bahwa terapi eradikasi memberikan perbaikan gejala pada mayoritas pasien dispepsia dengan persentase perbaikan gejala sebesar 76% dan 81% penemuan Hp
negatif yang diperiksa dengan UBT. Penelitian prospektif oleh Syam AF, dkk tahun 2010 menunjukkan bahwa terapi eradikasi Hp dengan triple therapy (rabeprazole, amoksisilin, dan
klaritromisin) selama 7 hari lebih baik dari terapi selama 5 hari.

tatalaksana dispepsia Hp

Pada daerah dengan resistensi klaritromisin tinggi, disarankan untuk melakukan kultur dan tes resistensi (melalui sampel endoskopi) sebelum memberikan terapi. Tes molekular juga dapat dilakukan untuk mendeteksi Hp dan resistensi klaritromisin dan/atau fluorokuinolon secara langsung melalui biopsi lambung. Setelah pemberian terapi eradikasi, maka pemeriksaan konfirmasi harus dilakukan dengan menggunakan UBT atau H. pylori stool antigen monoclonal
test. Pemeriksaan dapat dilakukan dalam waktu paling tidak 4 minggu setelah akhir dari terapi yang diberikan. Untuk HpSA, ada kemungkinan hasil false positive.
Sumber :
Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter Pylori oleh Perkumpulan Gastrointerologi Indonesia (2014)